Percikan Ikhlas – sebuah puisi


selewat aku melayari internet sambil bertemankan isteriku, terlintas dibenak hati yang kusam ini untuk mencari himpunan puisi..

terserempak aku dipaparan pencarian, sebuah “Himpunan Puisi dan Syair Islam”… begitu indah dan dalam maksud setiap puisi-puisi tersebut, dan aku mengambil keputusan untuk meletakkannya di sini, bertepatan dengan nama blog ini “Saffiyah” (sahabat tulus ikhlas)… bukannya tujuanku untuk bermegah2, namun menjadi tanggungjawab kita selaku umat Islam untuk berkongsi sesama kita…

Saya menuntut ilmu bukan sekedar berbangga
Saya menuntut ilmu untuk ke surga
Saya bekerja bukan sekedar mencari harta
Saya bekerja untuk ke surga
Saya berbakti kepada orang tua bukan sekedar balas jasa
Saya berbakti kepada orang tua untuk ke surga
Saya kembali pulang bukan sekedar nostalgia
Saya kembali pulang untuk ke surga
Kupilih kamu bukan sekedar cinta
Kupilih kamu untuk ke surga
Kujauhi yang lain bukan karena tak suka
Kutinggalkan yang lain karena takut dosa
(Adi Nurcahyo, Jember – 2008)

Penjelasan :

Setiap saat kita senantiasa dihadapan dengan berbagai pilihan perbuatan, apakah itu berkenaan dengan pekerjaan, keluarga, sekolah, atau berbagai aktivitas lainnya. Dan hampir semua pilihan itu kita ukur dengan pertimbangan enak atau ga enak, baik atau buruk, untung atau rugi, senang atau sengsara, dsb yang serupa dengan itu. Dan semua ini wajar dimiliki oleh seseorang yang masih baik akalnya.

Pertanyaannya, materi-materi kebaikkan macam apa yang kita kehendaki dan materi-materi keburukan seperti apa yang kita jauhi ? Kondisi-kondisi enak yang bagaimana yang kita harapkan, dan kondisi-kondisi tidak enak semacam apa yang kita benci ? Keadaan-keadaan senang semacam apa yang kita nantikan, dan keadaan-keadaan sengsara seperti apa yang kita takuti ?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan sumber inspirasi kita dalam berbuat. Ia merupakan pijakan utama kita dalam mengambil keputusan. Dan ia juga penegas kedudukan kita sebagai hamba dunia atau hamba-Nya.

Diriwayatkan dari Anas r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga hal yang barangsiapa menetapinya ia akan merasakan manisnya iman, (1) Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya, (2) Orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah, (3) Orang yang enggan kembali kafir setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran sebagaimana ia enggan untuk dilemparkan ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini berarti, segala sesuatu yang kita pilih hendaknya menyimpan materi-materi kebaikkan yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan sesuatu yang kita jauhi karena ia mengandung materi-materi yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw juga bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Umar bin Khaththab r.a.)

Perkara yang sangat penting untuk diperhatikan, sehebat dan sebesar apapun amal yang telah kita lakukan, tidak akan diterima di sisi Allah swt, kecuali setelah terpenuhinya dua syarat :

1. Hendaknya amalan tersebut dikerjakan semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah ta’ala (ikhlas), sebagaimana yang terkandung dalam hadits ‘Umar.

2. Hendaknya amalan tersebut secara zhohirnya sesuai dengan sunnah Rasulullah saw, sebagaimana sabda beliau, “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Al Qurthubi berkata, “Telah menjadi suatu perkara yang tetap dalam Al Kitab dan Sunnah bahwa amalan-amalan yang shalih dan ikhlas ketika melakukannya dengan diiringi keimanan akan membawa pelakunya menuju surga dan jauh dari neraka.”

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk : 2)

Fudhail bin Iyadh berkata mengenai ayat ini, “Yaitu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ketika ditanyakan, “Wahai Abu Ali, apa maksud paling ikhlas dan paling benar.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal itu tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, maka amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya dapat terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah swt. Sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw.”

p/s: bagi yang ingin mendapatkan Himpunan Puisi

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s